Postingan

PEMBANGUNAN PERDESAAN PARTISIPATIF MELAHIRKAN DESA KUAT NEGARA BERDAULAT

Gambar
(Diskusi dengan perwakilan Gapoktan  menggali aspirasi mengenai permasalahan pengairan bagi  pertanian di Kecamatan Kedungbanteng) Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M Puluhan tahun, pembangunan desa di laksanakan secara top down. Negara memiliki kekuasaan dan otoritas untuk “memaksakan” apa yang dianggap baik. Padahal baik bagi negara belum tentu bagi masyarakat. Dalam kenyataannya telah meninggalkan masalah serius. Pendekatan partisipatif merupakan salah satu cara merumuskan kebutuhan pembangunan daerah dan desa yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Konsep ini menempatkan masyarakat lapisan bawah sebagai perencana dan penentu kebijakan pembangunan di tingkat local. Pendekatan ini mengacu kepada model penggalian potensi dan gagasan pembangunan desa yang mengutamakan partisipasi atau peran serta masyarakat dalam pembangunan desa. Nilai gotong royong yang telah mengakar di kehidupan masyarakat desa harus menjadi landasan dalam membangun konsep...

STRATEGI CERDAS PRESIDEN SBY (QUICK TO SEE, QUICK TO DECIDE, QUICK TO TAKE ACTION)

Gambar
Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M Melepas kerinduan akan sosok kepemimpinan Bapak SBY, akan aku tuliskan beberapa langkah SBY dalam mengatasi krisis di Indonesia,kerinduan itu berujung mimpi bertemu dengan SBY, dijamu dan dipersilahkan naik limousine, semoga mimpiku setelah tahajud menjadi kenyataan dan aku bisa mengikuti jejak Bapak SBY ya ALLAH aamiin aamiin aamiin ya RABB. "QUICK TO SEE, QUICK TO DECIDE, QUICK TO TAKE ACTION" Penting bagi Pemimpin adalah merespon masalah dengan real time, komitmen dan dedikasi penuh terhadap rakyat adalah modal utama untuk menjadi Pemimpin yang dicintai rakyat. Hidup dan jiwanya telah sepenuhnya diabdikan untuk kepentingan rakyat, tak mengenal waktu dan tempat, dimanapun dan kondisi apapun, semua pengabdian dan pemikiran untuk rakyat harus dilakukan, masalah dan hambatan dijadikanya sebagai teman, bagaikan siang dan malam, masalah demi masalah tak kunjung usai, silih berganti namun bagi seorang SBY masalah bukan penghalang untuk s...

KONVERGENSI MENEKAN STUNTING DI INDONESIA

Gambar
Penulis : Patriawati Narendra, S.K.M, M.K.M  Tingkat prevalensi stunting di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan negara lain. Asian Development Bank pada tahun 2020 melaporkan masih ada 31,8% anak di Indonesia mengalami stunting dan ini menjadikan posisi Indonesia tertinggi ke dua di Asia Tenggara setelah Timor Leste. Sementara laporan World Bank di dunia internasional, Indonesia berada posisi empat setelah Burundi (50,9%), disusul Eritrea (49,1%), dan Timor Leste (48,8%). Data dua lembaga ini berbeda dengan publikasi Kementrian Kesehatan RI. Dalam laporan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dilakukan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI telah terjadi tren penurunan status gizi balita Indonesia. Pada tahun 2013 stunting mencapai 37,6% kemudian turun menjadi 27,7% pada 2019 dan tahun 2023 tersisa 21,6% - angka yang sama dengan tahun 2022 atau turun 2,8% dari tahun 2021 sebesar 24,4%. Isu overweight juga mengalami penguatan dari 11,8% d...

NILAI PANCASILA DALAM MENINGKATKAN PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA BERDAYA SAING GLOBAL

Gambar
Penulis : Patriawati Narendra, S. KM, M.K.M Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke dan keragaman suku bangsa, berbagai jenis adat istiadat, bahasa merupakan modal tersendiri untuk meningkatkan daya saing global. Bagaimana tidak? Pembangunan suatu bangsa tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang berdaya, berkualitas, berpikiran global, konsisten, tidak putus asa dan mampu menghadapi tantangan global. Kekayaan alam Indonesia merupakan local advantage yang tetap menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Dari segi stabilitas ekonomi Indonesia merupakan negara yang memiliki stabilitas yang cukup bagus dan kondusif yang merupakan modal kekuatan Indonesia untuk mengahadapi tantangan daya saing global yang sangat kompetitif. Pancasila hadir untuk memberikan pedoman-pandangan karakter kebangsaan, bahwa Indonesia sangat menghargai perbedaan agama, suku bangsa, ras dan keragaman bahasa, budaya, hal tersebut sangat p...

KONDISI TERPINGGIRKAN ITU ADALAH KESUKSESAN YANG TERTUNDA

Gambar
Penulis : Patriawati Narendra, S, KM, M.K.M Perjuangan identik dengan usaha dan semangat yang tiada lelah untuk mencapai suatu tujuan, penderitaan dalam setiap perjuangan merupakan suatu keniscayaan, bahwasanya penderitaan dalam sebuah perjuangan mempunyai bouncing back power yang dahsyat menuju kesuksesan.  Dari Umar Bin Khattab kita belajar untuk menjadi insan yang berempati terhadap orang lain, bijaksana dan berlaku adil, sekaligus mendapatkan teladan Pemimpin yang amanah, mau dan siap menanggung derita rakyatnya. Dari Nelson Mandela kita belajar menghapus segala dendam, tegar dan konsisten dalam berjuang. Dari Abraham Lincoln kita belajar kegigihan, keseriusan dan bangkit dari kegagalan, berjiwa mulia menghapus perbudakan, diskriminasi serta pemimpin yang berpikiran besar untuk mendamaikan konflik internal Utara Selatan. Dari Soekarno kita belajar tentang konsistensi berjuang, kegigihan, semangat membara untuk menjaga kemasyuran bangsa dimata dunia. Dari Fidel Castro ...

KECERDASAN DAN MINDSET PEMIMPIN MEMPENGARUHI KEMAJUAN NEGARA DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Gambar
Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M Ramalan Prabu Jayabaya Raja Kediri (1135-1157) tentang Zaman Kolobendu atau Era  Kekacauan (Goro-goro) menyebutkan bahwa ketika banyak pejabat makin jahat, penduduk makin  terpencil. Orang yang curang semakin garang, orang jujur semakin ajur (hancur), orang mulia  makin tersia-sia, orang jahat mendapat derajat, yang jahat kelebihan berkat, ketika banyak pejabat makin jahat, namun jika semua itu sirna maka akan memasuki zaman mulia, di mana Jawa akan makmur. Hal itu ditandai dengan kemunculan Ratu Ginaib, artinya pemimpin yang menjadi utusan ALLAH yang mengutamakan Ketuhanan, Perikemanusiaan dan Perikeadilan. Politik itu memuliakan bukan cakar-cakaran bukan memanfaatkan bukan pula mengeksploitasikan, politik itu menyejahterakan membahagiakan rakyat lalu jika sudah tertanam sifat egois bagaimana empatisme terhadap rakyat mau bersemi, sejatinya politik itu sikap rela berkorban untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara bukan ajan...