PERUBAHAN BESAR TUMBUH DARI SEMANGAT JUANG MENYEJAHTERAKAN SESAMA (MENABUR JUANG, MENUAI KESEJAHTERAAN BERSAMA)


Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M 

Perubahan itu lahir dari pemikiran yg berbeda, bahkan berani menjadi pembeda dari ritme irama dan rutinitas, berani menjadi pembeda artinya berani keluar dari zona pembiasaan  yg dilandasi dengan empati kepedulian, tulus karena cinta kasih untuk perbaikan hidup bagi sesama bukan karena pencitraan bertendensi kekuasaan, jika seperti itu akan nothing value dan tidak abadi.

Pemimpin rakyat wajib memiliki analis-analis politik yg berjiwa pejuang, idealis, konsisten, sayang rakyat, tidak abs (asal bapak senang), bukan penjilat, mampu memberikan deskripsi yg real dilapangan sehingga tidak menyebabkan blunder, visioner, tidak mudah menggadaikan idealisme demi materi dan mampu mendeteksi impact dari sebuah kebijakan dan keputusan yg diambil and the next nya kebijakan tersebut akan bermanfaat atau tidak, sense ini yg sangat sulit tapi harus dimiliki dan digali, jika tidak ya, jalannya tidak akan balance and stabil serta akan mereduce elektabilitas, menggerus trust rakyat.

Jangan kenyangkan perut untuk dirimu sendiri sedangkan yg lain masih banyak yg lapar dan kekurangan, jangan tumpuk kekayaan yg dengan cara menindas, menekan dan merampas hak orang lain karena sesungguhnya sangat menderitakan, emas yg engkau dapat dari galian derai tangis air mata sangatlah tidak berharga dibanding batu bata sebagai pondasi penompang dan benteng perlindungan kaum lemah, hidup akan bersahaja bila setiap nafas, langkah, dan kehidupan kita bisa bermanfaat untuk orang lain bukan membebani dan menderitakan orang lain, berlian kehidupan bukan didapatkan dari gemerlapnya materi keduniawian akan tetapi dari mindset dan empati kita dalam melihat, mendengar, merasakan, dan memahami penderitaan orang lain, karena setiap diri kita merupakan pemberi solusi bagi sesama.

Menurut Scroedinger dan teori nuklir pada umumnya bahwa energi atom/nuklir selain dipengaruhi oleh muatan antar partikel yg menyusun materi juga dipengaruhi oleh luasan penampang lintasan materi tersebut.

Energi partikel sebanding (berbanding lurus) dgn kuadrat muatan antar partikel dan berbanding terbalik dgn kuadrat jarak antar muatan partikel atau berbanding terbalik dgn luasan penampang lintasan partikel. Jadi energi partikel akan semakin besar efeknya pada internal partikel penyusun materi /benda(efek merusak), yg artinya bahwa “Semakin kecil materi/benda maka akan semakin besar energi antar partikel dan peluang gesekan antar partikelnya juga semakin besar” Akan tetapiSemakin luas wadahnya maka peluang gesekan semakin kecil dan energi merusak bisa diminimalisir”.

Masalah bangsa ibarat energi eksternal yg akan menghancurkan ikatan antar atom. Semakin kecil wadah partikelnya maka efeknya akan semakin besar tetapi semakin luas penampangnya wadahnya maka akan semakin kecil energi perusak yg dihasilkan. Batu yg dilempar ke samudera tentunya beda efek kegemparannya jika batu dilempar ke gelas.

Garam yg ditabur di danau tentunya tidak terasa asinnya jika garam tersebut ditabur digelas, karena luasnya hati dan keikhlasan bisa menawarkan apapun masalahnya, kendalanya dan hambatannya, minimalisir gesekan, limit kegaduhan maka akan mendapat ketenangan dan kedamaian.

Untuk menuju perubahan besar dibutuhkan “Kepemimpinan Otentik” yang memiliki leadership yg kuat and anti pencitraan setidaknya dapat melimitasi ambigunitas political goals dan berpaham bahwa rakyat harus menjadi raja di tanah airnya sendiri bukan menjadi buruh di tumpah darahnya sendiri.

Pemimpin sejati itu akan damai dan tentram jika berada di tengah rakyat, jiwa raganya sudah terpatri dengan aspirasi rakyat, sedihnya rakyat adalah sedih juga baginya, motivasinya besar untuk menyejahterakan dan memakmurkan rakyat, nafasnya adalah perjuangan dan langkahnya adalah pengorbanan, pemimpin sejati tidak akan bahagia dan tentram sebelum rakyatnya kenyang, makmur dan sejahtera.

Demokrasi itu ibarat makanan yg bergizi bagi negara, makanan akan bermanfaat bagi tubuh apabila dicerna pada lambung yg sehat, kuat, begitupun dengan negara. Negara akan kuat tangguh apabila welcome terhadap demokrasi, karena demokrasi Pancasila itu sangat penting bagi kita.

Politik adalah keahlian tertinggi dari warga negara untuk dapat mendistribusikan keadilan, jadi kalau masih ada yg bilang politik itu kotor, jahat bin kejam, berarti ada yg troubel pada oknumnya, yg tidak mempunyai keahlian dan kemampuan dalam mendistribusikan keadilan, tidak mampu memberikan kesetaraan/egaliterisme, kepedulian, empati, mengerti dan memahami urgenitas kepentingan umum.

Bahwa kebijaksanaan itu sangat penting, bahwa kedaulatan negeri itu juga sangat penting, rakyat wajib makmur sejahtera di tanah air tumpah darahnya. Negeri ini harus menjadi surga bagi seluruh rakyat Indonesia, jangan sampai kita menjadi budak ditanah air sendiri. Bahwa perjuangan itu sangat perlu untuk meningkatkan harkat dan martabat saudara sebangsa dan setanah air. Kokohkan persaudaraan bahwa kita bangsa yg berdaya, maju, sejahtera diatas kaki kita sendiri bukan hasil mengemis dari negara lain. 

Good leader akan menyiapkan followernya untuk siap menggantikan posisinya anytime, anywhere, dan follower yg baik akan siap menangkap tongkat estafet ketika tiba waktunya.

Negara akan mengalami perubahan besar apabila para leader telah mempersiapkan regenerasi dan kaderisasi. Kaderisasi bukan sekadar proses pergantian estafet kepemimpinan, melainkan fondasi utama yang menentukan arah masa depan suatu bangsa. Ketika sebuah negara secara serius mempersiapkan regenerasi kadernya, perubahan besar akan terjadi melalui keberlanjutan visi pembangunan, lahirnya pemimpin meritokratis, kebijakan yang survive terhadap perubahan zaman, penguatan institusi dan minimalisir krisis kepemimpinan.

Visi pembangunan perlu dilanjutkan dan seringkali pergantian pemimpin di tingkat nasional maupun daerah diikuti oleh perubahan total kebijakan sehingga ini membuat pembangunan stagnant, tidak berlanjut, oleh sebab itu pentingnya kaderisasi yang matang dan conqruen sehingga ideologi, visi jangka panjang dan rencana pembangunan strategis negara akan tetap terjaga dan dapat dilanjutkan secara konsisten oleh generasi mendatang.

Kepemimpinan yang lahir dari perjuangan dan penempaan akan memiliki daya endurance yang kuat, daya survive yang tangguh terhadap dinamika zaman dan memiliki kompetensi teknis yang relevan dengan tantangan zaman (digitalisasi, geopolitik dan ekonomi hijau) , memiliki kematangan emosional yang stabil dan mempunyai etika dalam pengambilan keputusan public, legitimasi kuat di mata masyarakat karena kapasitasnya dan kapabilitasnya sudah terbukti dan bukan pencitraan lagi.

Kaderisasi yang matang akan membawa perubahan yang positif dan membawa perspektif yang baru agar dapat menyelesaikan masalah-masalah kotemporer, mampu menjembatani nilai-nilai luhur bangsa melalui inovasi teknologi, reformasi birokrasi dan efisiensi tata kelola pemerintahan.

Kaderisasi yang sukses akan menumbuhkan perubahan dan kemajuan, negara tidak lagi ketergantungan pada satu figure sosok tertentu (one man show), ketika system kaderisasi berjalan maka stabilitas politik dan jalannya pemerintahan akan tetap stabil bahkan ketika menghadapi krisis sekalipun sehingga penguatan institusi dapat tercapai dan sekaligus dapat meminimalisir krisis kepemimpinan.

Analogi kaderisasi seperti formasi setiga pada sekawanan angsa yg terbang, ketika leader harus diganti, maka angsa berikutnya dengan sigap mengganti tanpa merusak formasi tersebut.

Kaderisasi penting untuk keberlangsungan sebuah organisasi karena organisasi tanpa kaderisasi bagai bangunan tanpa pondasi, rapuh, goyah dan mudah roboh.

Apabila hatinya tidak bergetar saat melihat orang miskin lemah tak berdaya, tidak memiliki empati peduli disaat mengerti dan melihat kesusahan rakyat kecil, pura-pura tidak tau dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan mereka lalu dengan tegas dan lugas malah justru semakin menindas, tega mengambil untung diatas penderitaan dan tangisan rakyat, cuek dan acuh dengan segala penderitaan mereka, santai gemolai no responsif tanpa langkah-langkah penyelesaian yg cepat and cermat serta sarat solusi berarti jiwa negarawannya perlu dipertanyakan.

Sepertinya kendala Indonesia maju bukan saja terletak pada minimnya sumber daya manusia yg handal akan tetapi minimnya mindset "Pemimpin yg Abudance Mentality" mindset yg berkelimpahan, mindset Pemimpin yg mau mengakui kehebatan and kebaikan orang lain (Pemimpin sebelumnya), menghargainya kemudian bersedia untuk melanjutkan segala hal yg sudah baik tersebut, mengabaikan pencitraan diri, egoisme pribadi dan mengutamakan kepentingan rakyat demi kemaslahatan dan kemajuan bersama.

Oleh karena itu perubahan besar suatu negara tidak terjadi secara instan melainkan dikontruksi melalui laboratorium kaderisasi bahwa "Negara yang gagal malakukan perubahan besar maka akan gagal pula dalam mengkaderisasi, sebaliknya negara akan mencapai perubahan besar manakala negara sukses dalam menyiapkan kaderisasi untuk kejayaan masa depan" 

INDONESIA BISA, INDONESIA KAYA, INDONESIA BERDAYA DAN INDONESIA JAYA SELAMA-LAMANYA!!!!

Bravo INDONESIAKU!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KADER DESA UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

PENDAMPINGAN DESA UNTUK BERDESA MANDIRI

RESENSI BUKU SARINAH "KEWAJIBAN WANITA DALAM PERJUANGAN REPUBLIK INDONESIA"