PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA ALLAH INSHAALLAH AMANAH
Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M
Pemimpin yang adil dan amanah kepada rakyatnya akan mendapat naungan oleh ALLAH, sebagaimana tertulis dalam Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa "Tujuh golongan yang akan dinaungi ALLAH dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (salah satunya adalah) pemimpin yang adil." (HR. Bukhari dan Muslim). Makna Keadilan dalam Kepemimpinan (Al-'Adl) adalah Keadilan dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak, dan tidak memihak, bahkan kepada diri sendiri, keluarga, atau orang yang dicintai. Ini adalah tugas yang sangat berat karena memerlukan ketegasan dan kemampuan untuk menepis segala kepentingan, hawa nafsu serakah dan mampu mengesampingkan tekanan yang menderitakan rakyat. Pemimpin yang adil mampu mengorbankan kepentingan pribadi demi tegaknya kebenaran dan kesejahteraan rakyatnya.
Ketika nanti seluruh umat berkumpul di Padang Mahsyar, bagi Pemimpin adil dan amanah kepada rakyat mendapatkan privilege dari ALLAH mendapatkan naungan dari panasnya Padang Mahsyar yang menyakitkan, tugas yang berat di dunia namun akan berakhir indah di akhirat kelak, sungguh ALLAH Al Muntaqim yaitu ALLAH Maha Membalas, dan tiada satupun perbuatan dan amal yang luput dari pantauan ALLAH, sehingga meskipun tantangan menjadi Pemimpin yang Adil dan Amanah itu sangat sulit dan rentan dibenci, dikucilkan dan rentan di fitnah namun lakukanlah, tegakkan kebenaran meskipun langit akan runtuh, meskipun dirimu selalu dicaci dimaki dan tercabik-cabik oleh sistem yang tidak membahagiakan masyarakat, tetaplah berlaku adil dan sayangi masyarakat.
ALLAH SWT telah memerintahkan kita untuk berlaku adil dalam mengemban amanah dan dalam memimpin masyarakat. ALLAH berfirman dalam QS. Al Maidah 5 ayat 8 : "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena ALLAH dan saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Berlakulah Adil karena adil itu lebih dekat pada takwa, Bertakwalah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan". Ada dua point penting makna dari Firman ALLAH ini yaitu Janganlah karena kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, hal tersebut mengisyaratkan bahwa secara eksplisit melarang pemimpin (atau siapa pun yang menjadi saksi/hakim) membiarkan rasa benci, permusuhan atau bahkan cinta yang nantinya dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan kebijakan yang adil. Point kedua yaitu Keadilan harus tetap ditegakkan meski sangat sulit dan meski banyak ancaman yang mengelilingi, karena keadilan dalam menegakkan keberanan dan kemaslahatan merupakan perintah ALLAH.
Pemimpin jika memahami Al Qur'an maka segala sesuatu tindakan dan perbuatan akan menjauhi dari kemaksiatan, menjauhi dari segala hal yang dilarang ALLAH, menjauhi dari segala hal yang nantinya akan menderitakan rakyat, menjauhi dari segala hal yang nantinya akan membebani rakyat, membuat tangis masyarakat dan menjauhi dari segala kebijakan yang mencekik kehidupan rakyat. Keadilan merupakan "Jalan Menuju Takwa" maka jika bertakwa kepada ALLAH dan jika Pemimpin tersebut mencintai ALLAH maka dapat dipastikan pemimpin tersebut juga akan mencintai seluruh masyarakat, segala kebijakannya dapat membahagiakan dan menyejahterakan rakyat. Berlaku Adil bagi Pemimpin adalah merupakan salah satu ibadah tertinggi kepada ALLAH, Privilege yang mana tidak semua orang bisa mengerjakannya, hanya orang-orang pilihan yang apabila mendapatkan amanah kepemimpinan kemudian mampu menegakkan kebenaran dan keadilan serta menyanyangi masyarakat, mampu menepis egositas kepentingan yang menderitakan masyarakat dan mampu menjadi cambuk keadilan bagi kaum-kaum yang masih mendzolimi masyarakat.
Perintah ALLAH sudah jelas bahwa "Jadilah kamu penegak kebenaran karena ALLAH", menegakkan kebenaran bagi seorang pemimpin adalah mutlak, menegakkan kebenaran untuk menyejahterakan masyarakat bukan semata-mata demi popularitas atau kepentingan politik saja. ALLAH memerintahkan berlaku adil bagi pemimpin meski segala hal setelahnya menjadi tidak nyaman, dan banyak sekali menuai kebencian namun yakinlah wajib bagi pemimpin untuk berlaku adil untuk itu Bismillah niatkan ibadah dan niatkan kemaslahatan, segala bentuk kedzoliman manusia inshaallah akan sirna.
Sebaliknya bagi pemimpin yang curang dan menderitakan rakyat maka Rasulullah bersabda "Tiada seorang hamba pun yang diserahi ALLAH untuk memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaaan curang (menipu) terhadap rakyatnya, melainkan ALLAH mengharamkan surga atasnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Pemimpin dilarang menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan, mengabaikan aspirasi masyarakat, tidak mendengarkan masukan saran dari masyarakat, melalaikan kesejahteraan rakyat dan tidak menunaikan hak-hak yang wajib dipenuhi oleh pemimpin, serta berlaku tidak adil dalam memperlakukan rakyatnya yaitu diskriminatif dan bertindak dzolim. Hadist Rasulullah ini memberikan penjelasan bahwa bagi pemimpin yang curang maka diharamkan masuk surga, hal ini menunjukkan bahwa kedzoliman dan tidak amanah kepada rakyat adalah dosa yang sangat besar di sisi ALLAH, dosa karena sudah menderitakan rakyat dan mengabaikan keluhan rakyat, buta tuli terhadap kesulitan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, oleh karena itu besarnya tanggung jawab pemimpin sangat berat yaitu hingga hisab akhirat maka jika pemimpin tersebut dapat berlaku adil dan amanah, ALLAH berikan naungan spesial di akhirat kelak.
Kepemimpinan adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama yang dapat mendorong kemajuan, kesejahteraan, pertumbuhan dan memastikan bahwa rakyat yang dipimpinnya hidup sejahtera bahagia, maka pantang bagi pempimpin berlaku tidak adil atau menentukan kebijakan karena faktor like and dislike, karena suka dan tidak suka dan karena faktor kedekatan sehingga mengabaikan aspirasi dan suara dari masyarakat, terlebih lagi bila kebijakan yang diambil tersebut dampaknya semakin menderitakan masyarakat.
Pemimpin yang takut kepada ALLAH inshaallah akan amanah dan adil kepada rakyat, karena dalam diri pemimpin tersebut terdapat keimanan dan ketakwaan yang mana apabila ia tidak berlaku adil, adzab ALLAH akan menanti, ia sadar terhadap segala konsekuensi yang akan diterimanya kelak di yaumil hisab apabila selama memimpin berlaku curang, culas dan jahat kepada rakyatnya. Pemimpin yang mencintai ALLAH maka akan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan dan kebijakan karena jangan sampai kebijakan yang diambil akan menderitakan seluruh rakyat. Pemimpin yang mencintai ALLAH maka segala perbuatan dan kebijakannya akan berorientasi membuat ALLAH tersenyum, membuat ALLAH ridho dan membuat rakyat bahagia suka cita sejahtera sehingga pemimpin tersebut mampu menegakkan kebenaran, mampu berlaku tegas menumpas segala hal yang menderitakan rakyat.
"Pemimpin yang amanah dan takut kepada ALLAH akan menggunakan hati nurani, empati dan kepedulian, menjadikan integritas sebagai pedoman dan mampu menempatkan kekuasaan sebagai sarana perjuangan untuk meraih kebaikan dan kebermanfaatan masyarakat (Fastabiqul Khairat)"
Semoga ALLAH ridho terhadap segala hal yang kita kerjakan dan berusaha di setiap amanah yang diemban mampu membuat ALLAH tersenyum dan penduduk langit bumi bahagia suka cita.
ALLAH ya Dzul Jalali Wal Ikram.

Komentar
Posting Komentar