PEMIMPIN DZOLIM TERHADAP RAKYATNYA PASTI AKAN JATUH DAN TERHINA


Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M

Pemimpin merupakan orang yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan, membina, mempengaruhi, mengkoordinasi sekelompok orang atau organisasi untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Pemimpin merupakan ujung tombak sebuah perbaikan dan pencapaian kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya, oleh sebab itu wajib bagi seorang pemimpin memberikan visi dan arah yang jelas, memberikan motivasi, mengelola sumber daya yang baik dan bertanggung jawab penuh terhadap kemaslahatan masyarakat. 

Pemimpin yang beriman dan bertakwa merupakan pondasi yang kuat dalam mengemban amanah karena mempunyai kesadaran tinggi bahwa tanggung jawab kepemimpinan akan dibawa sampai hisab akhirat sehingga pada saat menjabat dan memimpin tentu akan selalu pada jalur track kebenaran dan takut terhadap adzab ALLAH apabila kempimpinannya mendzolimi masyarakat. 

Pemimpin yang baik adalah ketika mampu memberikan kemuliaan, kesejahteraan serta kebahagiaan untuk masyarakat, memfokuskan pencapaian kesejahteraan bersama bukan sebaliknya hanya fokus pada pencapaian kesejahteraan pribadi dan golongan serta tidak mengembangkan arogansi kekuasaan untuk kemuliaan pribadinya. 

ALLAH telah menurunkan ayat tentang pemimpin yang dzolim, ancaman yang pedih bagi orang yang berbuat dzolim kepada masyarakat, seperti firman ALLAH pada QS. Asy Syura ayat 42 : "Sesungguhnya dosa itu diatas orang-orang yang berbuat dzolim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih", ayat ini menegaskan bahwa dosa dan sanksi yang berat di akhirat apabila berlaku dzolim kepada masyarakat, mengambil hak masyarakat, kesewenang-wenangan, arogansi dan egoistis dalam menentukan kebijakan yang tidak mau mendengarkan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu kekuasaan bukanlah alat untuk arogansi pribadi untuk mencapai kemakmuran pribadi dan golongan yang bilamana salah dalam memegang amanah apalagi jikalau kekuasaan dan kebijakan tersebut menyebabkan penderitaan masyarakat, maka adzab ALLAH akan segera datang. 

Sejarah Islam mencatat bahwa pemimpin yang dzolim akan mengalami kejatuhan dan kehinaan. Dari kisah Abu Jahal (Amr bin Hisyam) seorang pemimpin yang keras dan paling lantang dalam memusuhi Islam, Abu Jahal menolak kebenaran  wahyu ALLAH dan ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah karena kesombongan dan fanatisme kesukuan. Abu Jahal melakukan pergerakan yang konsisten dalam menentang, memboikot dan menghalangi upaya penyebaran ajaran Islam, bukan hanya itu saja sosok penentang Islam yang kejam jahat dan menyiksa para pengikut Rasulullah seperti penyiksaan yang dialami Bilal Bin Rabah, selain itu juga provokator terjadinya Perang Badar tahun 624 M dimana dia memimpin pasukan kafir Quraisy. Abu Jahal pemimpin yang dzolim akhirnya tewas dalam Perang badar dan kuburannnya hingga sekarang mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat. 

Kisah selanjutnya yaitu Raja Persia Kisra Parvez, ketika Rasulullah mengirim surat dakwah, Kisra dengan angkuh merobek surat tersebut, kemudian Rasul berdoa : "Ya ALLAH, pecah belahlah oleh Engkau kerajaan Kisra". Tidak lama kemudian Raja Persia Kisra Parvez dibunuh oleh putranya sendiri, adzab langsung yang diberikan ALLAH kepada pemimpin yang dzolim. 

Bahwa pemimpin yang dzolim harus segera sadar dan taubatan nasuha, telah jelas ayat ALLAH tentang adzab yang akan diterima pemimpin yang dzolim dan Hadist Rasulullah tentang pemimpin dzolim, "Tidaklah seorang hamba yang ALLAH berikan amanah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan curang (menipu/zalim) terhadap rakyatnya, melainkan ALLAH akan mengharanmkan Surga atasnya". (HR. Bukhari dan Muslim). Penting kiranya menyampaikan kebenaran didepan penguasa dzolim, seperti Hadist Rasulullah "Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata yang adil (kebenaran) di hadapan pemimpin yang dzolim dan penguasa yang sewenang-wenang. (HR. An Nasa'i, Ahmad dan At Tirmidzi). Jabatan pemimpin adalah amanah dari ALLAH yang apabila di salah gunakan dan apabila mengkhianati rakyat maka ancamannya adalah adzab yang pedih di akhirat serta diharamkannya Syurga. 

Raja Namrudz kisah selanjutnya yaitu salah satu contoh pemimpin yang dzolim di jaman Nabi Ibrahim AS yang akhirnya tewas karena seekor nyamuk yang masuk di telinganya. Nyamuk tersebut masuk melalui lubang telinganya dan bersarang di otaknya menyebabkan rasa sakit yang luar biasa hingga ia harus meminta kepalanya dipukuli, sungguh kematian yang ironis yang menunjukkan betapa tidak berdayanya kekuasaan manusia di hadapan ALLAH SWT. Namrudz bin Kan'an semasa hidupnya merupakan raja yang berkuasa di Babilonia (Irak), kekuasaan yang luas dan kekayaan yang melimpah membuatnya menjadi raja yang sangat dzolim, arogan dan angkuh. Namrudz mengaku Tuhan, ia menyatakan dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya, Namrudz mengklaim bahwa ia dapat menghidupkan dan mematikan (dengan membebaskan seorang tahanan dan membunuh yang lain) lalu Nabi Ibrahim menantang Namrudz dengan tantangan yang tidak bisa dijawab oleh Namrudz, "Sesungguhnya ALLAH telah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat". Namrudz terdiam dikalahkan oleh argumen kebenaran dari Nabi Ibrahim AS namun Namrudz tetap menolak beriman kepada ALLAH. Namrudz malu dan merasa terhina lalu memerintahkan membakar Nabi Ibrahim dalam keadaan hidup, lalu mukjizat ALLAH datang saat api membakar Nabi Ibrahim AS, "Wahai api, Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim" (QS. Al Anbiya ayat 69). 

Sejarah selanjutnya yaitu kisah pemimpin dzolim, Presiden Turki Mustafa Kemal Ataturk, perwira militer yang memiliki sejarah penindasan kelam terhadap umat Islam. Pada Tahun 1922 ia menghapuskan Kesultanan Ottoman, pada tanggal 29 Oktober 1923 Mustafa Kemal resmi mendirikan Republik Turki dan menjadi Presiden, Ia meluncurkan serangkaian reformasi radikal yang dikenal "Kemalisme atau Ataturk Inkilaplari" dengan tujuan untuk memodernisasi Turki dan meniru konsep Barat. Mustafa Kemal menghapus sistem Khalifah pada tahun 1924 dan mendeklarasikan Turki sebagai negara sekuler, mengganti hukum Islam (Syariah) dengan hukum positif sekuler (adopsi hukum eropa, seperti hukum perdata Swiss). Meskipun Pemerintahannya Republik namun ia menjalankan secara diktator (partai tunggal), menggunakan kekerasan untuk menumpas lawan politik yang menentang reformasinya, hukuman gantung bagi para penentang Kemalisme termasuk didalamnya ulama dan politisi, menghapus lembaga-lembaga keagamaan, sekolah agama (madrasah) dan Kementrian Wakaf. Jenazah Mustafa Kemal tidak diterima bumi karena ia kejam menghancurkan Kekhalifahan, membunuh dan menyiksa ulama dan politisi yang menentang reformasinya dan memaksa sekulerisme. Jasad Mustafa ditolak bumi kemudian dikuburkan diatas semen atau marmer, jasad yang awalnya disemayamkan di Museum Etnografi selama 15 tahun kemudian pada tanggal 10 November 1953 jasadnya dipindahkan ke mausoleum permanen di Ankara. 

Kisah selanjutnya, pemimpin super dzolim Fir'aun. Fir'aun adalah gelar untuk Raja Mesir yang menolak kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Musa AS. Fir'aun menggunakan kekuasaan untuk menindas dan mendiskriminasi rakyatnya tujuannya untuk melemahkan mereka, sebuah ciri khas dari pemimpin yang otoriter dan diktator. Kedzoliman Fir'aun ini telah tertulis di QS. Al Qasas 28 ayat 4 : "Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mereka. Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan" . Ketika Nabi Musa AS menyampaikan kebenaran, Fir'aun menolak dan menutup hati serta menuduh Nabi Musa AS sebagai tukang sihir dan pendusta. Fir'aun akhirnya mendapat balasan mati dalam keadaan tragis dan hina, Fir'aun dan seluruh bala tentaranya mati ditenggelamkan ALLAH di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil, seperti yang tertulis dalam QS. Al Qasas 28 ayat 40 : "Maka Kami hukumlah dia (Fir'aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang dzolim". Selin itu ALLAH memberikan hukuman akhirat (alam barzah) sebelum hari kiamat tiba khusub bagi Fir'aun dan para pengikutnya, seperti yang tertulis dalam QS. Al Mu'min 40 ayat 46 : "Neraka ditampakkan kepada mereka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat) :"Masukkanlah Fir'aun dan pengikut-pengikutnya ke dalam adzab yang paling keras". 

Kisah Fir'aun dan para pemimpin dzolim diatas dapat dijadikan bahan pencerahan untuk muhasabah diri dan pembelajaran bagi kita bahwa kekuasaan tanpa keimanan dan ketakwaan serta landasan keadilan akan menjadi liar, angkuh, arogan, sombong, dan susah mendengarkan keluh kesah penderitaan rakyat. Kehidupan dunia yang bermandikan kekayaan mewah akan berujung dengan kebinasaan dan kehinaan baik di dunia maupun di akhirat. 

Iman dan takwa serta takut kepada ALLAH adalah landasan mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, kepemimpinan tanpa iman dan takwa akan cenderung mengarah kepada keangkuhan dan Tiran, merasa dirinya lebih tinggi dari ALLAH, lebih kuat dari ALLAH dan lebih berkuasa dari ALLAH, lupa diri karena kekuasaan dan kemewahan dunia yang menjadikan dirinya semakin rakus dan haus akan nikmat dunia. Pemimpin yang lemah iman akan cenderung melakukan penindasan dan kedzoliman kepada rakyat yang dipimpinnya, semau gue dalam menerapkan kebijakan dan tidak mendengarkan kesulitan yang dialami rakyatnya. Penindasan, penganiayaan dan kekejaman demi kekejaman yang dilakukan pemimpin dzolim bertujuan untuk mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan. Kekuasaan tanpa batasan moral Ilahi dan nir empati akan mudah disalahgunakan, sebagai contoh korupsi dan kerusakan moral pejabat yang semakin lama semakin menjauh dari perintah ALLAH, "Yang salah dibenarkan, yang benar di salahkan, yang salah didukung penuh dan yang benar serta membela rakyat malah disingkirkan, mindset salah dilanggengkan dan pembenahan malah dibumihanguskan". Ada pepatah Arab mengatakan bahwa "Rakyat berada di atas agama rajanya" ini berarti bahwa pengaruh moral dan spiritual seorang pemimpin sangat berpengaruh kepada kelangsungan hidup rakyatnya.  

"Iman dan Takwa kepada ALLAH SWT merupakan pengendalian moral tertinggi bagi seorang pemimpin, jika mencintai ALLAH maka seorang pemimpin tersebut akan mentaati semua perintah ALLAH dan menyanyangi serta memuliakan masyarakat, tanpa adanya iman dan takwa kepada ALLAH, kekuasaan merupakan bola panas dan liar yang sewaktu-waktu akan menghantam dan menderitakan bagi rakyat yang dipimpin".  

Semoga ALLAH memberikan petunjuk, perlindungan dan selalu memberikan keistiqomahan dalam mengemban amanah dan kepercayaan rakyat. 

ALLAH ya Dzul Jalali Wal Ikram. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KADER DESA UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

RESENSI BUKU SARINAH "KEWAJIBAN WANITA DALAM PERJUANGAN REPUBLIK INDONESIA"

PENGARUH POLITIK TERHADAP HUKUM (HUKUM SEBAGAI PRODUK POLITIK)