Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M
Siksaan bagi seorang Mukmin dalam mempertahankan keimanan dan ketakwaan kepada ALLAH, bukanlah suatu hal yang menyakitkan atau menderitakan, namun siksaan tersebut adalah bentuk cinta kasih seorang hamba kepada Rabbnya. Sungguh jika manusia menyadari akan hikmah ujian dan pahala yang besar di akhirat, tentu mereka yang sudah meninggal ingin hidup kembali dan ingin diuji dengan ujian yang sangat berat dan sangat menyakitkan.
Matahari bersinar sungguh sangat terik, padang pasir yang sangat panas dan membakar kulit, namun bagi Bilal bin Rabah, panasnya gurun tidak menggetarkan jiwanya, tidak menggoyahkan keimanannya untuk tetap mengakui keesaan ALLAH, "AHAD" "AHAD" ucap Bilal yang menggetarkan langit, menggema di ArsyNYA ALLAH, sungguh kekuatan keimanan seorang hamba ALLAH yang sangat conqruen, tidak peduli betapa beratnya batu besar yang menindih dadanya, kerasnya cambukan kaum kafir Quraisy yang terus menerus mencambuk Bilal tanpa henti dan terus mengejek BIlal, namun Bilal tetap tegar dan bertahan meski dicambuk bertubi-tubi.
Bilal bin Rabah seorang budak belia yang berasal dari Ethiopia, namun hidayah ALLAH tidak pilih kasih atau diskriminatif, tidak memandang strata dan kelas sosial, ketika cahaya ALLAH masuk ke dalam hati dan nurani Bilal, maka seketika itu Bilal mulia dihadapan ALLAH meski di hadapan manusia Bilal direndahkan, dibully dan dicaci maki. Keimanan dan Ketakwaan Bilal bin Rabah membuat majikannya Umayyah bin Khalaf berang dan mencoba dengan berbagai cara untuk memadamkan hidayah dan keimanan Bilal kepada ALLAH SWT. Umayyah mencoba meruntuhkan keimanan Bilal dengan menyiksanya di tengah padang pasir yang terik. Siksaan Bilal yang bagi manusia biasa tentu sangat pedih perih namun bagi Bilal, siksaan kafir Quraisy justru memberinya kekuatan untuk tetap menjaga keimanan dan ketakwaan kepada ALLAH, "AHAD" "AHAD", ucapan Bilal yang menggemparkan langit, membuat ALLAH tersenyum dan semakin menyanyangi Bilal.
Sungguh keimanan yang sangat luar biasa sekali dari seorang hamba ALLAH.
Bilal bin Rabah, "SEMAKIN DISIKSA JUSTRU SEMAKIN BESAR PULA KADAR KEIMANAN DAN KETAKWAAN KEPADA ALLAH". Jika hidayah dan cahaya ALLAH sudah masuk ke relung hati seorang hamba maka tidak ada yang bisa menghalangi cinta kasih seorang hamba kepada Rabbnya. Siksaan yang diterima Bilal adalah bentuk cinta kasih dan perwujudan dari Iman kepada ALLAH, yang tidak goyah ketika disiksa, ditimpa batu besar dan dijemur dibawah sinar matahari yang sangat terik. Keimanan seorang hamba akan membawa pada keselamatan dan keberkahan dunia akhirat. Keimanan dan ketakwaan merupakan daya endurance seorang hamba yang tetap taat meski kondisinya sedang kesusahan atau kepayahan, yang tetap beribadah meski ujian datang silih berganti dan bertubi-tubi, yang tetap husnudzon kepada ALLAH ketika kebutuhan dan beban kehidupan yang semakin hari semakin menghimpit, dan tidak goyah ketika kemewahan dunia bertabur emas berlian dan kekayaan yang menggodamu.
Bilal diselamatkan ALLAH dengan mendatangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau menebus Bilal dan sekaligus memerdekakan Bilal bin Rabah dari majikannya yang sangat kejam dan sejak saat itu Bilal bin Rabah merupakan sahabat Rasulullah dan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq. Prestasi dan kemuliaan Bilal yaitu ketika pada hari pembebasan Makkah, Bilal di perintah Rasulullah untuk menjadi Muadzin dan naik ke atas atap Ka'bah. Suara yang sangat lantang dan sangat menghayati dalam keimanan dan keislaman membuat masyarakat Madinah merindukan suara Adzan dari Bilal. Bilal yang dulu dipandang sebelah mata dan diabaikan, sekarang berubah menjadi orang yang sangat spesial dan berdiri di puncak bangunan paling suci di dunia ini yaitu Ka'bah.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Bilal terpukul, hatinya remuk redam, tak sanggup lagi mengumandangkan adzan, setiap sampai pada nama "Muhammad" suaranya pecah oleh tangis yang tak terbendung. Untuk menyembuhkan kesedihan karena kehilangan Rasulullah, Bilal meninggalkan Madinah untuk berjihad di Syam, dan sampai akhir hayatnya di Damaskus, Bilal tetap menjadi simbol bahwa keimanan sanggup mengubah derita menjadi kemuliaan. Siapapun yang menggantungkan hatinya pada ALLAH tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh kekuatan dunia mana pun. Bilal mengajarkan kepada kita bahwa Iman merupakan kekuatan untuk bertahan dalam keadaan yang menyakitkan, kasih sayang ALLAH kepada Bilal menunjukkan anti rasisme, anti dikriminatif dan Islam sangat menyanyangi sesama, tanpa memandang ras, suku, warna kulit, dan memperlakukan sesama tanpa diskriminasi.
"Bilal memberi kita pencerahan bahwa sakitnya penyiksaan dunia akan sirna oleh keimanan dan ketakwaan kepada ALLAH"
"Kisah Bilal memberikan bukti bahwa ALLAH maha adil, maha rahman rahim, bahwa mantan budak lebih mulia dari pengusaha sombong dan kejam"
"Penyiksaan dunia bukanlah akhir sebuah kehidupan, karena terkadang keteguhan iman membuat penyiksaan dunia itu ringan dan mudah untuk dihadapi serta awal dari sebuah kesuksesan"
"Berbaik sangkalah kepada ALLAH, bisa jadi penyiksaan dan penderitaanmu di dunia merupakan pintu keberkahan untukmu di dunia dan akhirat"
" Mari belajar dari Keteguhan Iman Bilal, meski dunia menyiksamu, menghimpitmu, menghalangimu, menderitakanmu, ingatlah selama hatimu mencintai ALLAH maka engkau tak akan pernah kalah"
ALLAH ya Qawiyyu.
Komentar
Posting Komentar