SAYANGI RAKYAT, HAPUSKAN SISTEM KAPITALIS BIROKRAT DEMI KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M
KABIR atau singkatan dari Kapitalis Birokrat sudah sejak lama mendera bangsa kita,
bagaimana tidak, berangkat dari sistem feodal jaman dahulu merupakan warisan sistem
sekaligus menjadi tradisi yang terus mempengaruhi mindset yang anehnya masih ada yang
terus melestarikan sistem ini. Mengapa ini bisa terjadi? KABIR lestari karena sifat keegoisan
manusia, karena sifat keserakahan manusia, mindset untung rugi yang terus dikembangkan
sehingga membuat semua kontribusi menjadi hal yang perlu diperhitungkan, sungguh
menjadi suatu kemunduran, melemahkan apabila sistem KABIR ini masih terus dilanjutkan.
Keegoisan ini akan berujung pada ketidakadilan yang dapat mengakibatkan ketimpangan-
ketimpangan dalam pembangunan masyarakat. Sungguh sistem yang sangat merugikan
semua elemen masyarakat, bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus
diwujudkan, harus diimplementasikan diberbagai sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Kapitalis birokrat merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan kekuasaan oleh
kaum birokrat baik yang memegang kendali kekuasaan negara di tingkat nasional hingga
tingkat kabupaten atau kota yang secara langsung melayani kepentingan imperialisme untuk
memperkaya dirinya sendiri dan keluarga atau untuk mengumpulkan kapital untuk
mempertahankan dan menaikkan posisinya dalam pemerintahan. Kapitalis birokrat tak
ubahnya benalu yang sangat mengagungkan sistem feodalisme dalam masyarakat, tak segan
untuk membela imperialis hanya demi keuntungan pribadi dan kroni tetapi mengorbankan
semua kepentingan rakyat, tak peduli dengan semua aspirasi dan keinginan rakyat serta tak
empati terhadap beban penderitaan rakyat. KABIR dengan berjalannya waktu akan
melahirkan mafia-mafia, makelar kasus dan tentunya apalagi kalo bukan korupsi. Rakyat
seakan terpedaya oleh kekuasaan dan kewenangan yang berbalut kapitalis, informasi untuk
publik menjadi terbelenggu dan tidak adanya tranparansi sistem pelaporan keuangan dan
Korupsi dan sistem kapital sangat merugikan rakyat, mematikan sendi kehidupan
berbangsa dan bernegara, mengurangi hak dan keadilan untuk rakyat karena motivasinya
hanya untuk kemakmuran pribadi dan kroni, sungguh menyedihkan...sungguh merupakan
suatu pembodohan rakyat, rakyat dipaksa untuk bungkam dengan menutup berbagai akses
saluran informasi yang ada dan menekan kran keterbukaan publik, sehingga dengan
keegoisan sistem birokrasi ini semakin menjadi angkuh dan sekaligus menyebabkan
ketakutan masyarakat untuk mengkritisi dan memberikan masukan terhadap pemangku
kepentingan hingga Bung Karno mengatakan “Indonesia adalah bangsa yang sakit, tanpa
karakter, dan masyarakatnya sudah terlanjur parah sakit, ada dalam lubang apatisme, tak
mau cari jalan keluar, pasrah dan tunduk—mentalnya, “mental tempe”.
Mindset awal yang salah bermula dari rekruitmen pegawai negeri yang sudah bukan
rahasia lagi yaitu fenomena “menyogok” yang nantinya akan menciptakan generasi birokrat
yang kapitalis, minim idealisme dan menyuburkan lahan korupsi, kembali lagi rakyat yang
akan menuai akibatnya dari penetapan sistem yang salah tersebut. Mindset pencari untung
akan menghiasi ranah birokrasi, memanipulasi anggaran, dan melakukan kong kali kong
dengan rekanan proyek hanya untuk meraup untung untuk pribadi dan kroni, hal tersebut
jelas akan memandulkan empati, peduli dan mengasihi.
Rakyat harus dibahagiakan, disejahterakan, dimakmurkan, diberikan keadilan yang
seadil-adilnya bahwasanya negara ini harus hadir untuk meringankan semua beban
penderitaan rakyat, semua kesulitan dan kesusahan rakyat. Jangan deritakan rakyat karena
tanpa rakyat apalah artinya negara ini. Kapitalisme atau Kapitalis adalah suatu paham yang
meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan
sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah yang memiliki mindset kapitalis
birokrat ini tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi
intervensi pemerintah versi Kabir ini dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-
kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi
universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai
sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada
masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun
kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun
melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan
manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan
modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu,
baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku
tersebut.
Kapitalisme cenderung akan memberikan dampak kerugian materi dan immateri
bagi kemajuan bangsa, kerugian materi antara lain jelas dengan birokrat yang bermental
korup, kapitalis, akan memanipulasi anggaran, mengkorupsi anggaran yang ada dengan
berbagai cara dengan menutup semua akses keterbukaan publik. Menyuburkan paham
penjilat dan ABS (Asal Bapak Senang) sehingga akan melemahkan ide, aspirasi, saran,
masukan dan mematahkan kreatifitas berpikir dan bertindak serta mematikan quick
response beserta problem solving yang ada karena sifat dari kaum kapitalis adalah egoistis
feodal yang tidak membutuhkan masukan saran dari orang lain.
Progesifitas kemajuan menjadi sangat mustahil dan stagnant, karena praktis semua
imajinasi, kreasi, kreatifitas dan pemikiran orang lain selalu salah dan tidak tepat sehingga
akan memunculkan paham “Im The Best and always The Best, You..worst”. Mindset
pemikiran yang sangat melemahkan dan mengingkari cita-cita kemajuan pembangunan
Indonesia. Dampak dari mindset egoistis ini akan menyebabkan lambatnya suatu
perubahan, lambatnya quick response dan tidak adanya progresifitas peningkatan
kemajuan, menjadi stagnant, lemah, angkuh tetapi anehnya tidak mau berintrospeksi dan
memperbaiki.
Pembuatan kebijakan menjadi timbang sebelah, tidak memihak kepentingan rakyat,
semena-mena dan tidak peduli dengan segala kesusahan dan penderitaan rakyat.
Cenderung mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok dan mengesampingkan
dampak penderitaan rakyat. Praktek kolusi dan korupsi menjadi sangat biasa bagi kalangan
Kapitalis Birokrat, memanfaatkan semua kewenangan dan jabatanya hanya untuk
menguntungkan sekelompok orang dan golongan dan sekaligus menyebabkan matinya rasa
peduli dan empati terhadap keberlangsungan hidup rakyat.
KABIR akan menelurkan warisan dan tradisi yang merugikan, melanggengkan pungli,
jual beli jabatan, makelar kasus, mafia proyek, suap menyuap, tradisi amplop, dan
pemberian gratifikasi, hal ini dikarenakan untuk memulihkan modal dan menjadi kapal keruk
untuk mengeruk semua keuntungan dari kekayaan negara sekaligus mengambil uang rakyat
dengan berbagai cara dan upaya serta melindungi kroni untuk melestarikan tradisi dan
kebiasaan korup. Oleh karenanya KABIR akan mempersulit kontrol dari rakyat terhadap
kebijakan/pelaksanaan administrasi dan pengalokasian serta pendistribusian anggaran.
Pelayanan prima menjadi sebuah kiasan dan motto yang hanya terpajang tanpa
diikuti oleh implementasi pelaksanaan di lapangan, prosedur pelayanan masyarakat yang
lama dan birokrasi yang berbelit-belit, sehingga menyulitkan rakyat untuk mendapatkan
akses pelayanan masyarakat. Pelayanan menjadi mahal dan tidak berkualitas, respon
menjadi sangat lamban dan diskriminasi. KABIR akan memundurkan kemajuan yang selama
ini dirintis oleh para pendiri negeri, oleh karena itu mari limitasi KABIR dengan cara
mengasihi rakyat, sayangi rakyat, tumbuhkan empati dan peduli kepada rakyat tanpa
melihat ras, agama, suku, kepercayaan, bahwasannya Indonesia bangsa yang merdeka
karena bersatu padu dalam bingkai semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Mari tumbuhkan kesadaran untuk lebih memahami keadaan rakyat, mengerti dan
ikut merasakan penderitaan rakyat agar dapat meminimalisir korupsi, kolusi, tradisi pungli,
gratifikasi, suap menyuap, dll. Jadikan Masyarakat kita menjadi masyarakat pembelajar
(Learning Society) untuk mampu melawan tekanan, ancaman, berpikir demokratis, terbuka,
kritis, welcome terhadap perubahan dan perbaikan, mempertahankan prinsip kebenaran
dan kepedulian sosial, membentuk jejaring komunitas dan organisasi agar ilmu
pengetahuan, pemikiran dan wawasan bertambah, menghilangkan mindset egoistis dan
scarcity mentality atau mentalitas berkekurangan, sedih melihat orang sukses dan senang
melihat orang gagal, yang sangat jelas akan menghambat kemajuan pembangunan di
Indonesia. Indonesia akan sukses apabila birokrat-birokrat negeri mampu menghilangkan
paham KABIR sehingga semua hajat hidup rakyat akan terlayani, tercukupi dan terlindungi
dari ancaman dampak globalisasi yang semakin mencekam. Tanpa KABIR INDONESIA JAYA,
SEJAHTERA, MAKMUR DAN DAPAT MENCAPAI KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA!!

Komentar
Posting Komentar