WASPADAI ANEMIA









Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh kuantitas dan kualitas dari generasi muda, menurut WHO Regional Office SEARO, salah satu masalah gizi remaja putri di Asia Tenggara adalah anemia defisiensi zat besi yaitu kira-kira 25-40% remaja putri menjadi korban anemia tingkat ringan sampai berat. Remaja merupakan masa dimana dimulainya periode maturasi fisik, emosi, sosial dan seksual menuju dewasa oleh karena itu asupan gizi yg seimbang akan sangat mendukung bagi pertumbuhan tubuh yg optimal.

Anemia mrp berkurangnya daya angkut oksigen krn kadar hemoglobin yg berkurang, menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah. Zat besi mrp salah satu mikronutrient yg penting pada tiap sel, yg sebagian besar berada dalam darah hemoglobin 65%, hati 30%, sel-sel otot 3,5%, enzim 0,5%, dan tranferin 0,1%. Menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa makanan esensial (protein,besi, asam folat dan B12). Zat besi diperoleh dari diet and suplemen kemudian disimpan di hati, dikirim oleh sel darah merah melalui sumsum tulang belakang, dan dalam darah dpt bertahan 3-4 bulan, sebagian mati, dan yg lain didaur ulang untuk dijadikan hemoglobin.

Klasifikasi Anemia berdasarkan penyebab yaitu :
1. Anemia Defisiensi Besi
2. Anemia Megaloblastik
3. Anemia Hemolitik
4. Anemia krn gagal sumsum tulang belakang (absolut, relatif, eritropeisist tdk efektif, pure red blood cell anemia). Sedangkan derajat anemia dibagi menjadi 3, yaitu
1. Ringan (8-10gr/ml)
2. Sedang (6-8 gr/ml)
3. Berat (<6 gr/ml). Berdasarkan morfologi eritrosit klasifikasi anemia terbagi menjadi 3, antara lain
1. Anemia hipokromik mikrositer (Anemia defisiensi besi, Thalasemia dan Hemoglobinopati, Anemia Peny. Kronik, Anemia Sedero blastik),
2. Anemia normokromik normositer (Anemia Hipoplastik/aplastik, Anemia Hemolitik aquisita, Anemia pasca pendarahan akut)
3. Anemia Makrositer (Anemia megaloblastik :Anemia Def asam folat & vit B12, Anemia akibat obat/kemoterapi dan anemia non megaloblastik (Anemia Penyakit Hati, Anemia Hipotiroid). Kriteria WHO tentang Anemia yaitu
1. Umur 6 bln-5 th : <11 gr%
2. Umur 6 th -14 th : <12 gr%
3. Umur <14 th laki2 : <13 gr%
4. Umur <14 th Pr. : <12 gr%
5. Wanita hamil : <11 gr%
Klasifikasi Prevalensi Anemia :
1. Prevalensi <5% : Bukan Masalah
2. Prevalensi 5-14% : Masalah Ringan
3. Prevalensi 15-39% : Masalah Sedang
4. Prevalensi >/=40%: Masalah Besar

Upaya Penanggulangan Anemia bisa dilakukan dengan melalui intervensi berbasis pangan seperti konsumsi makanan sumber zat besi hewani lebih besar dari nabati, fortifikasi zat besi, senyawa zat besi yg dijadikan fortikan yaitu ( ferosulfat, ferofumarat, ferolaktat,elemental iron) dan intervensi Non Pangan (Suplementasi) yaitu dengan mengatasi anemia resiko tinggi (bumil, busui, WUS, bayi, balita, anak sekolah) dengan memberikan tablet besi-folat untuk meningkatkan kadar Hemogloblin secara cepat.

Upaya Pencegahan Anemia dapat dilakukan dengan 3 cara :
1. Long term : promosi KIE yg berorientasi pd perubahan pola menu dan perilaku masyarakat. 2. Short term : Suplementasi tablet besi kpd bumil, WUS, remaja putri, dan pekerja wanita, PMT bagi bayi dan balita.
3. Kerja Multisektoral : melibatkan kerjasama berbagai Kementerian yaitu Kemendikbud Kementrian Pertanian, Kementrian Pemuda dan Olahraga, Kominfo dll.
Jaga terus kualitas kesehatan kita dan keluarga karena kualitas sumber daya manusia dan generasi muda Indonesia dimulai dari asupan gizi keluarga selain itu juga keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan melalui ketersediaan dan kualitas SDM oleh karena itu mari jadikan generasi muda Indonesia yg sehat, cerdas dan berkualitas melalui asupan gizi yg cukup dan seimbang sehingga mampu menjadikan Indonesia Kuat dan Bermartabat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KADER DESA UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

RESENSI BUKU SARINAH "KEWAJIBAN WANITA DALAM PERJUANGAN REPUBLIK INDONESIA"

PENGARUH POLITIK TERHADAP HUKUM (HUKUM SEBAGAI PRODUK POLITIK)