KEPEMIMPINAN YANG MENDERITAKAN
Penulis : Patriawati Narendra, S.KM, M.K.M
Terkadang memang benar bahwa “leadership is a perception from the follower” sehingga
kejanggalan, kekeliruan dan bahkan kekejaman yang dilakukan leader pun tidak nampak
terlihat dan terasa oleh para followernya, contoh Hitler, Kemal Ataturk, dan Pol Pot.
Bagi yang bukan pemuja Hitler tentu bisa melihat jika dia dikatator otoriter dan kejam.
Namun bagi pengikutnya ia adalah sosok very good leader. Bagi pengikut Pol Pot, ia adalah
pahlawan, malaikat dan dewa penolong yang menyejahterakan, semua hal kekejaman yang
terjadi seolah-olah nihil dan bahkan sebagai bentuk perjuangan untuk membela negara.
Dikatakan ineffective leadership yaitu ketika leader telah gagal membawa pengikutnya untuk
mencapai tujuan, cita cita yang diinginkan bersama. Jadi jangan pernah berpikir bahwa
kepemimpinan yang buruk bukan karena lemahnya kualitas leadership dari sang pemimpin
saja tetapi ini terjadi bisa karena buruknya kualitas pengikut-pengikut mereka sehingga
minim masukan, kritikan, koreksi yang membuat leader semakin terlena karena sanjungan,
pujian sehingga leader lupa dan malas untuk berbenah diri untuk mengoreksi diri,
mengevaluasi kebijakan dan menyelaraskan antara buah pikir, pemahamam dan empatisme
finally kepemimpinan yang gagal dan menderitakan bukan saja bagi pengikutnya tetapi bagi
masyarakat luas...LEADER YANG BAIK SELALU INGIN DIKRITIK.
Buah dari ineffective leadership akan memunculkan unethical leadership dalam membedakan
benar dan salah, sehingga karena abu-abu dan gamang dalam melihat sesuatu maka
semangat untuk doing the best and doing the right things...zero...nothing!!!
Kenapa ineffective and unethical leadership ini bisa terjadi?
Pertama, watak dan karakter pemimpin yang memang kurang baik (arogan, tidak empati,
diktator, semau gue, merasa the best sehingga susah menerima kritik).
Kedua, scarcity mentality (mentalitas yang menderitakan) susah melihat orang senang atau
senang melihat orang susah.
Ketiga, pemimpin bodoh. Pemimpin semacam ini adalah pemimpin yang tidak mau belajar
dan mengevaluasi diri, keluhan pengikutnya tidak diterima dan disaring karena memang tidak
terhubung akibat kekuasan yang oligarkis atau frekuensi di otak ada yang error sehingga
tidak bisa menerima tuntutan rakyatnya.
Keempat, pendengar yang buruk. Tidak memiliki kemampuan yang baik untuk mendengar
keluhan, aspirasi baik dari pengikut atau masyarakat, sehingga minim progresifitas, inovasi,
koreksi dan empatisme. Pada akhirnya tidak ada kebermanfataan bagi khalayak.
Kelima, egois. Pemimpin yang egois tentu akan mengutamakan diri pribadi dan krooni
sehingga seluruh pemikirannya, pemahamannya dan inovasinya hanya untuk kemakmuran
diri dan kroni...ini fatal!!! kepentingan publik terabaikan.
Keenam, jaga jarak. Pemimpin yang membuat jarak terlalu jauh, akan menyuburkan benih-
benih egois, diktator dan otoriter karena akan muncul paham “Sopo Siro Sopo Ingsun”- Siapa
Elu Siapa Gue
Jadi leadership yang menderitakan adalah paket yang komplit dari kualitas pemimpin dan
pengikutnya, bagaimana menjadi pengikut yang baik dan memberi manfaat apabila diam dan
lemah saat leader melakukan kekeliruan, dan bahkan terhadap kekeliruan yang dilakukan
leader, follower justru membela dan membenarkan. Hal yang sebenarnya oleh pengikut
secara tidak sadar sedang berkontribusi untuk menggali buah kegagalan pemimpinnya
sendiri, mendekatkan jurang kehancuran kepada pemimpinnya.
Followers yang baik, tentu akan cekatan memberikan sinyal kekeliruannya terhadap
pemimpinnya, memberikan ewars early warning system dan analisa analisa kajian yang sarat
perbaikan bukan memberikan pujian kata kata surga yang menyejukkan padahal sejatiya itu
racun yang mematikan untuk pemimpinnya. Pilihannya ada dua, mau terjun ikut ke jurang
atau berjuang berbenah.Kritis kepada pimpinan atau diam tapi menderitakan.
Pemimpin yang baik akan selalu rindu kritikan dan sanggahan dari pengikutnya, karena
pujian itu sesungguhnya mematikan dan kritikan itu sesungguhnya menyehatkan dan
menstabilkan kualitas kepemimpinan.

Komentar
Posting Komentar